Jumat, 05 Oktober 2012

MINAT BELAJAR YANG SANGAT RENDAH DI SEKOLAH PINGGIRAN




Oleh: SRI HANDAYANI
 
Anak jaman sekarang sering “barlen” (bubar kelalen) jika dibandingkan jaman dahulu sangatlah berbeda. Padahal jaman dulu pendidikan belum berkembang seperti sekarang ini. Sekarang jaman sudah maju perkambangan IPTEK berkembang sangat pesat, banyak penemuan modern dalam bidang pendidikan yang bertujuan untuk memajukan dunia pendidikan, tetapi mengapa justru anak – anak sekarang “barlen”?
Pada wakttu KBM berlangsung anak dalam satu kelas diperkirakan telah paham, namun setelah diadakan post test hasilnya tidak memuaskan. Penguasaan anak terhadap suatu materi pelajaran tidak maksimal, nilai banyak yang kurang dari KKM. Yang baru diajarkan saja lupa ap[alagi jika satu minggu kemudian, satu bulan kemudian atau bahkan satu semester kemudian ? Apa yang ada dalam benak anak - anak sekarang ? Setiap soal yang dikerjakan tidak maksimal hasilnya. Hal ini terjadi pada semua mata pelajaran terutama mata pelajaran yang bersifat akademis. Banyak guru - guru sering mengalami hal tersebut dari tahun ke tahun. Orang tua juga menyadari hal ini, bahwa anak - anak sekarang minat terhadap pelajaran sangat rendah dilihat dari hasil nilai - nilai ulangan harian yang rendah atau kurang dari KKM.
Bila kita cermati ternyata penyebab dari rendahnya minat belajar adalah banyak faktor, antara lain:
1.  Banyaknya permainan yang membuat kelelahan psikhis anak. Misalnya game-game yang ada di HP atau komputer. Hal ini dampak dari kemajuan elektronika yang tidak dapat disalahkan, hendaknya anak diarahkan agar dapat membagi waktu antara belajar dan bermain.
2. Belajar haya berlangsung di sekolah, waktu di rumah digunakan untuk bermain dan membantu orang tua. Seharusnya ada hubungan yang harmonis antara sekolah, orang tua dan masyarakat. Ketiga komponen ini biasa disebut Tri Pusat Pendidikan oleh Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara. Ketiga komponen harus saking mendukung untuk kemajuan pendidikan di sekolah.
3. PR atau tugas yang diberikan dari sekolah tidak pernah atau jarang dikerjakan. Padahal pemberian PR  bertujuan untuk pengulangan pelajaran atau pengayaan agar anak paham betul tentang materi yang telah diajarkan guru. Dalam hal ini tugas orang tua untuk selalu mengingatkan anaknya.
4.  Tugas guru sebagai fasilitator tidak dapat berjalan sebagai mana mestinya karena anak - anak tidak menyiapkan diri untuk menghadapi pelajaran setiap hari sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Seharusnya siswa disiplin dalam belajar, pelajaran yang akan diajarkan besok pagi sudah dipelajari atau dibaca dari buku pelajaran, dari rangkuman materi LKS, maupun dari internet. Jika anak menemui kesulitan bisa dibahas dalam pelajaran di sekolah. Jadi diharapkan sebelum pelajaran anak sudah mempunyai bekal sehingga pada waktu pelajaran berlangsung dapat berkembang karena setiap anak mempunyai masalah yang berbeda.
5.  Dalam KBM guru tidak atau kurang menggunakan alat peraga. Diharapkan dalam setiap KBM guru menggunakan alat peraga dengan tujuan anak tidak verbalisme,menarik perhatian sehingga pelajaran menjadi lebih berkesan seperti pepatah cina yaitu:    Saya mendengar, maka saya lupa, Saya melihat, maka saya ingat, Saya melakukan, maka saya memahami.
6.  Dalam KBM sering guru melakukan pembelajaran dengan model kuno yang membosankan anak. Seharusnya guru dalam KBM menerapkan pendekatan kontekstual yaitu pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman yang sesungguhnya. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan teransfer pengetahuan dari guru ke siswa.
          Untuk mengatasi anak yang “barlen” harus memanfaatkan waktu anak dirumah, karena waktu anak di rumah lebih banyak dari pada waktu anak di sekolah. Sebagai orang tua yang berperan dalam pendidikan informal harus dapat mengarahkan anaknya untuk setiap hari belajar jangan hanya kalau ada PR atau waktu ulangan saja. Akan lebih baik 4 x 2 dari pada 2 x 4. Maksudnya adalah
          4 x 2 = 2 + 2 + 2 + 2
          2 x 4 = 4 + 4
          Jadi belajar dengan waktu sedikit namun sering dilakukan akan lebih baik hasilnya dari pada belajar dengan waktu yang banyak tapai jarang dilakukan, karena anak belajar tidak dalam proses seketika Pengetahuan dan ketrampilan anak diperoleh sedikit demi sedikit berangkat dari pengetahuan(skemata) yang dimiliki sebelumnya. Anak anak yang “barlen” sering terjadi di sekolah-sekolah pinggiran. Ilmu atau pelajaran haya diperoleh dari sekolah saja, pulang sekolah waktu total digunakan untuk bermain dan membantu pekerjaan orang tua di rumah. Jangankan membuka buku pelajaran PR pun tidak pernah dikerjakan. Jumlah anak yang mengerjakan PR dapat dihitung dengan jari. Lain dengan sekolah-sekolah ditengah kota, sebagaian besar siswanya mengikuti les atau frivat pada lembaga bimbingan belajar. Jadi dari segi ilmu pengetahuan siswa di sekolah yang ada ditengah kota lebih dapat berkembang dan dapat menguasai lebih banyak ilmu pengetahuan dari pada siswa yang ada di sekolah pinggiran. Guru –guru di sekolah pinggiran harus mencari terobosan-terobosan untuk dapat memaksimalkan pencapaian target kurikulum. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1.  Mengadakan pertemuan dengan wali murid dan tokoh masyarakat di awal tahun pelajaran untuk merumuskan bersama atau membuat kesepakatan bersama untuk kemajuan pendidikan di kelas pada khususnya dan sekolah pada umumnya untuk waktu mendatang.
2.  Setiap ada tugas atau PR harus diketahui oleh orang tua agar selalu dapat mengingatkan anaknya. Misalnya dengan membuat buku yang khusus untuk mencatat semua ttugas yang harus dikerjakan dan kapan harus dikumpulkan dengan ditandatangani oleh guru dan wali siswa. Juga berisi peringtan jika belum dikerjakan.
3.  Guru memberikan tambahan pelajaran atau ekstrakurikuler untuk lebih memahami pelajaran terutama mata pelajaran yang bersifat akademis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar