Jumat, 05 Oktober 2012

Tentang Pendidikan Indonesia



Opini

Beberapa hari yang lalu saya sempat mendapatkan sebuah pertanyaan tentang pendidikan yang ada di Indonesia dari guru bahasa Inggris saya. pertanyaannya adalah,’ apa yang kamu ketahui tentang pendidikan Indonesia? dan apa yang kamu bayangkan 20 tahun lagi tentang pendidikan Indonesia?’

Sebelum saya berkicau panjang lebar tentang pendidikan, mari kita telaah dulu tentang pendidikan itu sendiri. dari buku yang sedang saya baca karya Ki Hadjar Dewantara,
pendidikan adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak-anak
perlu ditegaskan bahwa pendidikan hanya memiliki hak untuk menuntun hidup seseorang anak, seharusnya tidak lebih, bahkan tidak boleh mendorong seorang anak menjadi sesuatu yang mereka tidak inginkan.

Dari sini, saya dapat merasakan bahwa makna pendidikan sendiri telah bergeser dari arti harfiahnya. saat mendapatkan pendidikan kita bukan dituntun tapi di arahkan untuk menjadi sesuatu. saya tidak boleh ini, tidak boleh itu, saya salah, saya benar, semuanya diarahkan, hingga saya merasa menjadi seperti robot. inikah pendidikan yang seharusnya saya dapatkan? dari sini, saya mencoba menjawab pertanyaan dari guru bahasa inggris saya. yang saya ketahui tentang pendidikan Indonesia adalah, sistem pendidikan Indonesia membuat anak-anak Indonesia menjadi robot-robot, menjadi manusia tanpa hasrat, tak punya kemauan untuk melakukan yang dia inginkan. padahal nyatanya dalam UU Sisdiknas, sudah tertera pasal-pasal yang jika terimplementasikan dengan baik, kata seorang teman, Indonesia akan menjadi negara dengan sumber daya manusia terbaik. seperti bunyi pasal 3 UU Sisdiknas dibawah ini,

Bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3)
pak Anies Baswedan-pun bernah berkata bahwa manusia terdidik, tercerahkan dan berintegritas adalah asset utama Republik Indonesia. masa depan dibangun dengan mencerdaskan manusianya. jika pendidikan Indonesia berhasil mendidik manusia-manusia Indonesia menjadi SDM yang berkualitas, Indonesia pasti mengalahkan Jepang. sayangnya sampai saat ini, permasalahan pendidikan Indonesia tidak sekedar di implementasinya UU Sisdiknas di dunia pendidikan, tapi juga penyebaran guru-guru yang berkualitas yang sadar tentang pendidikan yang baik itu seperti apa juga tidak merata.

Pernah saya mendengar suatu kenyataan, ada seorang aktivis pendidikan, saya lupa siapa namanya, berbicara di pemutara Film Tan Malaka dalam pemikirannya tentang pendidikan, bahwa saat ini penyebaran guru-guru baik itu tidak sampai di seluruh Indonesia, akibatnya sekolah berlabel unggulan mendapatkan guru-guru dan fasilitas yang baik pula tentunya, sedangkan sekolah yang biasa-biasa saja akan mendapatkan guru-guru yang biasa saja, dan sekolah berlabel ‘kurang’ juga akan mendapatkan guru yang tidak sebaik guru di sekolah unggulannya. akibatnya, anak-anak yang mampu masuk sekolah unggulan dengan tingkat IQ yang tinggi akan mendapatkan pendidikan yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang hanya mampu bersekolah di tempat biasa.

Harusnya pendidikan Indonesia bisa jadi solusi atas tantangan-tantangan di negara ini, pendidikan juga lah yang menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, pendidikan juga yang mengkader manusia-manusia Indonesia, sehingga memiliki karakter. sayangnya lagi, pendidikan, baik sistem maupun pelengkapnya masih belum berhasil membuat ini menjadi nyata. sekolah sebagai wadah penyampaian pendidikan, belum berhasil membuat pendidikan menjadi pendidikan sesungguhnya, sekolah membatasi ruang gerak-ruang gerak anak-anak Indonesia, membenarkan yang salah, dan menyalahkan yang benar, anak-anak tidak dibiarkan menggunakan imajinasinya.

Tapi jangan lupa masalah pendidikan ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah sebagai organisasi yang mengatur segalanya di negara ini, rakyat sebagai bagian dari negara ini juga memiliki porsi untuk membantu keberjalanan sistem pendidikan yang ideal, mulai dari keluarga, lebih dulu, lingkungan sekitar, baru porsi sekolah. bahkan pendidikan paling melekat kepada seseorang anak itu adalah pendidikan dalam keluarganya, baru kemudian sekolah dan lingkungannya. seperti kata Pak Anies (lagi), education starts from home. be a prepared parent. negara ini juga memiliki janji kemerdekaan tentang pendidikan yang tercantum pada
UUD 1945, yaitu salah satunya ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’.

Maka mulai dari detik ini juga, marilah masing-masing dari diri kita menyadarkan bahwa kita memiliki peranan penting dari keberjalanan pendidikan di Indonesia, karena tiap-tiap dari kita memiliki tanggung jawab, minimal dari ‘rumah’ kita masing-masing, kemudian baru lingkungan sekitar.

Terimakasih yang sudah membaca sedikit kicauan di kepala saya tentang pendidikan, tulisan ini dibuat untuk mengingkatkan tentang Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal setiap 2 Mei, mari kita renungkan kembalinya pentingnya pendidikan bagi negara dan besarnya jasa Ki Hadjar Dewantara (dan pahlawan-pahlawan lain seperti Tan Malaka, Butet Manurung, Anies Baswedan, dan guru-guru kita) yang telah berjuang keras untuk memberikan yang terbaik bagi pendidikan Indonesia. semoga pendidikan Indonesia ke depannya lebih baik lagi dari sebelum-sebelumnya, sehingga menghasilkan orang-orang terdidika yang mampu memimpin negara ini ke arah yang lebih baik. amin!

gambar milik : komunitas pojok pendidikan

MINAT BELAJAR YANG SANGAT RENDAH DI SEKOLAH PINGGIRAN




Oleh: SRI HANDAYANI
 
Anak jaman sekarang sering “barlen” (bubar kelalen) jika dibandingkan jaman dahulu sangatlah berbeda. Padahal jaman dulu pendidikan belum berkembang seperti sekarang ini. Sekarang jaman sudah maju perkambangan IPTEK berkembang sangat pesat, banyak penemuan modern dalam bidang pendidikan yang bertujuan untuk memajukan dunia pendidikan, tetapi mengapa justru anak – anak sekarang “barlen”?
Pada wakttu KBM berlangsung anak dalam satu kelas diperkirakan telah paham, namun setelah diadakan post test hasilnya tidak memuaskan. Penguasaan anak terhadap suatu materi pelajaran tidak maksimal, nilai banyak yang kurang dari KKM. Yang baru diajarkan saja lupa ap[alagi jika satu minggu kemudian, satu bulan kemudian atau bahkan satu semester kemudian ? Apa yang ada dalam benak anak - anak sekarang ? Setiap soal yang dikerjakan tidak maksimal hasilnya. Hal ini terjadi pada semua mata pelajaran terutama mata pelajaran yang bersifat akademis. Banyak guru - guru sering mengalami hal tersebut dari tahun ke tahun. Orang tua juga menyadari hal ini, bahwa anak - anak sekarang minat terhadap pelajaran sangat rendah dilihat dari hasil nilai - nilai ulangan harian yang rendah atau kurang dari KKM.
Bila kita cermati ternyata penyebab dari rendahnya minat belajar adalah banyak faktor, antara lain:
1.  Banyaknya permainan yang membuat kelelahan psikhis anak. Misalnya game-game yang ada di HP atau komputer. Hal ini dampak dari kemajuan elektronika yang tidak dapat disalahkan, hendaknya anak diarahkan agar dapat membagi waktu antara belajar dan bermain.
2. Belajar haya berlangsung di sekolah, waktu di rumah digunakan untuk bermain dan membantu orang tua. Seharusnya ada hubungan yang harmonis antara sekolah, orang tua dan masyarakat. Ketiga komponen ini biasa disebut Tri Pusat Pendidikan oleh Bapak Pendidikan, Ki Hajar Dewantara. Ketiga komponen harus saking mendukung untuk kemajuan pendidikan di sekolah.
3. PR atau tugas yang diberikan dari sekolah tidak pernah atau jarang dikerjakan. Padahal pemberian PR  bertujuan untuk pengulangan pelajaran atau pengayaan agar anak paham betul tentang materi yang telah diajarkan guru. Dalam hal ini tugas orang tua untuk selalu mengingatkan anaknya.
4.  Tugas guru sebagai fasilitator tidak dapat berjalan sebagai mana mestinya karena anak - anak tidak menyiapkan diri untuk menghadapi pelajaran setiap hari sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Seharusnya siswa disiplin dalam belajar, pelajaran yang akan diajarkan besok pagi sudah dipelajari atau dibaca dari buku pelajaran, dari rangkuman materi LKS, maupun dari internet. Jika anak menemui kesulitan bisa dibahas dalam pelajaran di sekolah. Jadi diharapkan sebelum pelajaran anak sudah mempunyai bekal sehingga pada waktu pelajaran berlangsung dapat berkembang karena setiap anak mempunyai masalah yang berbeda.
5.  Dalam KBM guru tidak atau kurang menggunakan alat peraga. Diharapkan dalam setiap KBM guru menggunakan alat peraga dengan tujuan anak tidak verbalisme,menarik perhatian sehingga pelajaran menjadi lebih berkesan seperti pepatah cina yaitu:    Saya mendengar, maka saya lupa, Saya melihat, maka saya ingat, Saya melakukan, maka saya memahami.
6.  Dalam KBM sering guru melakukan pembelajaran dengan model kuno yang membosankan anak. Seharusnya guru dalam KBM menerapkan pendekatan kontekstual yaitu pembelajaran yang terjadi dalam hubungan yang erat dengan pengalaman yang sesungguhnya. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan teransfer pengetahuan dari guru ke siswa.
          Untuk mengatasi anak yang “barlen” harus memanfaatkan waktu anak dirumah, karena waktu anak di rumah lebih banyak dari pada waktu anak di sekolah. Sebagai orang tua yang berperan dalam pendidikan informal harus dapat mengarahkan anaknya untuk setiap hari belajar jangan hanya kalau ada PR atau waktu ulangan saja. Akan lebih baik 4 x 2 dari pada 2 x 4. Maksudnya adalah
          4 x 2 = 2 + 2 + 2 + 2
          2 x 4 = 4 + 4
          Jadi belajar dengan waktu sedikit namun sering dilakukan akan lebih baik hasilnya dari pada belajar dengan waktu yang banyak tapai jarang dilakukan, karena anak belajar tidak dalam proses seketika Pengetahuan dan ketrampilan anak diperoleh sedikit demi sedikit berangkat dari pengetahuan(skemata) yang dimiliki sebelumnya. Anak anak yang “barlen” sering terjadi di sekolah-sekolah pinggiran. Ilmu atau pelajaran haya diperoleh dari sekolah saja, pulang sekolah waktu total digunakan untuk bermain dan membantu pekerjaan orang tua di rumah. Jangankan membuka buku pelajaran PR pun tidak pernah dikerjakan. Jumlah anak yang mengerjakan PR dapat dihitung dengan jari. Lain dengan sekolah-sekolah ditengah kota, sebagaian besar siswanya mengikuti les atau frivat pada lembaga bimbingan belajar. Jadi dari segi ilmu pengetahuan siswa di sekolah yang ada ditengah kota lebih dapat berkembang dan dapat menguasai lebih banyak ilmu pengetahuan dari pada siswa yang ada di sekolah pinggiran. Guru –guru di sekolah pinggiran harus mencari terobosan-terobosan untuk dapat memaksimalkan pencapaian target kurikulum. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:
1.  Mengadakan pertemuan dengan wali murid dan tokoh masyarakat di awal tahun pelajaran untuk merumuskan bersama atau membuat kesepakatan bersama untuk kemajuan pendidikan di kelas pada khususnya dan sekolah pada umumnya untuk waktu mendatang.
2.  Setiap ada tugas atau PR harus diketahui oleh orang tua agar selalu dapat mengingatkan anaknya. Misalnya dengan membuat buku yang khusus untuk mencatat semua ttugas yang harus dikerjakan dan kapan harus dikumpulkan dengan ditandatangani oleh guru dan wali siswa. Juga berisi peringtan jika belum dikerjakan.
3.  Guru memberikan tambahan pelajaran atau ekstrakurikuler untuk lebih memahami pelajaran terutama mata pelajaran yang bersifat akademis.